Watashi? - Chapter 1



Aku sendiri, di sudut tempat yang tak ku ketahui. Bisakah kalian, siapa pun, menarikku dari tempat ini.

Tolong aku…

Tetesan air yang menyedihkan telah aku keluarkan sedari tadi. Kesendirian dan keputusaan telah mengurungku di tempat ini. Tak memperbolehkan aku bergerak walaupun seinci.
Aku sudah tak kuat dengan semua beban di pundak. Hanya bisa mengaduh dengan suara serak. Diiringi pundak naik turun karena terisak.

Di salah satu sudut daerah yang asing. Aku hanya bisa membayangkan senyum orang-orang yang pernah dekat denganku. Aku hanya mau mengambil memori visual yang menyenangkan tentang teman-temanku.

Aku harus bisa

Bangun dari jatuh

Mengacuh bualan mereka

Dan membalasi mereka senyuman semu

Aku hanya bisa mengira seberapa lama lagi aku akan bertahan. Dari serangan peluru panas yang menembus kulit. Mencipta goresan luka yang aku tak menjaminnya akan hilang begitu saja.
Usahaku untuk mengenyahkan visualisasi dari memori belum pernah gagal. Aku akan terus melakukannya agar mereka tidak memberiku tatapan janggal.

Aku tak ingin mereka menatapku dengan memicingkan mata. Seperti meragukan apa yang mereka lihat. Merendahkan obyek yang mereka tatap. Dan aku berusaha agar tidak masuk dalam kategori anak yang seperti itu.

Membela diri dengan bertahan menjadi 'anak baik'.

Bisakah kalian dengar tangisku? Tangis yang menembus dinding hati yang terisolasi oleh rasa egois. Hanya bisa menatapnya miris, memang cukup tragis. Tapi aku hanya bisa menangis.

Mengeluarkan kata-kata yang kupendam melalui air mata. Hanya bisa terisak di dada. Memeberi atensi hanya kepada diri.

Kulihat…

Sosok berbaju hitam yang membawaku pergi dari sudut asing itu. Aku hanya menurut kepada kakinya yang melompat dari bangunan ke bangunan lain. Membiarkannya membawaku ketempat yang ia tuju. Mungkin ia ingin membantu.

Jari-jari memegang erat baju hitamnya. Aku tak bisa melihat wajahnya kerena tertutupi oleh tudung jubah. Tapi aku tetap percaya. Terselip rasa nyaman dihati. Tenang dan… senang, mungkin.

Ia mengembalikanku ke tempatku berasal. Dimana aku merasa senang atau kesal. Tak bisa aku menyangkal bahwa ia memang baik, aku merasa pernah merasakan getaran ini sebelumnya.

Otakku mencoba terus mencari selagi ia pergi. Karena aku yakin ia tak mungkin menoleh kemari. Entah kenapa aku begitu yakin. Seperti menebak kebiasaan melihat diri di cermin.

Aku ingat…

Ia adalah sosok berjubah yang sering menolongku. Menghilangkan rasa sakitku. Menyembuhkan lukaku selagi ia sendiri berlipur lara.

Ia terlalu baik bagiku. Orang yang selalu memberiku api semangat, agar aku lebih giat. Aku merasa ia dan aku terikat. Tapi faktanya dia lebih kuat, aku tak mungkin seseorang yang penting baginya.

Tapi kenapa…

Ia selalu datang. Dengan jubah hitam yang mengobarkan api pantang menyerah. Terus berusaha mencariku, sampai ketemu. Aku tak mengerti perasaan ini tapi aku merasa nyaman bersamanya.

 Dia mau menjemputku dalam keadaan begitu. Tanpa rasa ragu ia mengangkat badanku, membawa ke tempatku yang sebenarnya dimana aku bisa menghirup udara.

o0o



Desclaimer      : Cerita ini asli kepunyaan dari aftu, author dari aftu24.blogspot.com.       Terinspirasi dari lagu Black Rock Shooter.
Tittle               : Watashi?
Genere            : Friendship
Chapter          : 1 dari …

o0o

AN : Ehem, akhir-akhir ini saya sering banget nulis beginian. Cerita maksudnya. Eh tapi ada yang bilang ini prosa. Saya jadi bingung ini termasuk prosa atau cerita.

Sumber inspirasi saya berasal dari lagunya Hatsune Miku, vokalis dari Vocaloid. Lagunya banyak yang mempunyai tempo cepet, nge-beat gitu. Saya kan suka yang rimanya cepat, jadi kalo sobat punya saran lagu bisa hubungi saya. Terserah lewat apa.

Saya tambahkan lagi tentang cerita ini. Cerita yang saya buat ini saya gunakan sebagai bahan mentah dari fanfiksi. Jadi mungkin sekitar beberapa hari atau minggu kemudian pasti akan muncul fanfiksinya. Karena konsep cerita ini saya gunakan untuk gambaran besar sebuah cerita.

Tapi itu tidak menjamin loh ya, karena saya juga kadang disibukkan oleh duta (DUnia nyaTA). Dan mood, lebih spesifiknya perasaan saya pada saat ngarang juga sangat berperan dan mempengaruhi.

Jadi gak bisa dipaksain #belum_profesional
Udahlah saya terlalu banyak omong, termia kasih sudah membaca


No comments:

Post a Comment

Saya harap anda menggunakan bahasa yang sopan dan tidak OoT. Terima kasih.