Aku sendiri, di sudut
tempat yang tak ku ketahui. Bisakah kalian, siapa pun, menarikku dari tempat
ini.
Tolong aku…
Tetesan air yang menyedihkan
telah aku keluarkan sedari tadi. Kesendirian dan keputusaan telah mengurungku
di tempat ini. Tak memperbolehkan aku bergerak walaupun seinci.
Aku sudah tak kuat
dengan semua beban di pundak. Hanya bisa mengaduh dengan suara serak. Diiringi
pundak naik turun karena terisak.
Di salah satu sudut
daerah yang asing. Aku hanya bisa membayangkan senyum orang-orang yang pernah
dekat denganku. Aku hanya mau mengambil memori visual yang menyenangkan tentang
teman-temanku.
Aku harus bisa
Bangun dari jatuh
Mengacuh bualan mereka
Dan membalasi mereka
senyuman semu
Aku hanya bisa mengira
seberapa lama lagi aku akan bertahan. Dari serangan peluru panas yang menembus
kulit. Mencipta goresan luka yang aku tak menjaminnya akan hilang begitu saja.
Usahaku untuk
mengenyahkan visualisasi dari memori belum pernah gagal. Aku akan terus
melakukannya agar mereka tidak memberiku tatapan janggal.
Aku tak ingin mereka
menatapku dengan memicingkan mata. Seperti meragukan apa yang mereka lihat.
Merendahkan obyek yang mereka tatap. Dan aku berusaha agar tidak masuk dalam
kategori anak yang seperti itu.
Membela diri dengan
bertahan menjadi 'anak baik'.
Bisakah kalian dengar
tangisku? Tangis yang menembus dinding hati yang terisolasi oleh rasa egois.
Hanya bisa menatapnya miris, memang cukup tragis. Tapi aku hanya bisa menangis.
Mengeluarkan kata-kata
yang kupendam melalui air mata. Hanya bisa terisak di dada. Memeberi atensi
hanya kepada diri.
Kulihat…
Sosok berbaju hitam yang
membawaku pergi dari sudut asing itu. Aku hanya menurut kepada kakinya yang
melompat dari bangunan ke bangunan lain. Membiarkannya membawaku ketempat yang
ia tuju. Mungkin ia ingin membantu.
Jari-jari memegang erat
baju hitamnya. Aku tak bisa melihat wajahnya kerena tertutupi oleh tudung
jubah. Tapi aku tetap percaya. Terselip rasa nyaman dihati. Tenang dan… senang,
mungkin.
Ia mengembalikanku ke
tempatku berasal. Dimana aku merasa senang atau kesal. Tak bisa aku menyangkal
bahwa ia memang baik, aku merasa pernah merasakan getaran ini sebelumnya.
Otakku mencoba terus
mencari selagi ia pergi. Karena aku yakin ia tak mungkin menoleh kemari. Entah
kenapa aku begitu yakin. Seperti menebak kebiasaan melihat diri di cermin.
Aku ingat…
Ia adalah sosok berjubah
yang sering menolongku. Menghilangkan rasa sakitku. Menyembuhkan lukaku selagi
ia sendiri berlipur lara.
Ia terlalu baik bagiku.
Orang yang selalu memberiku api semangat, agar aku lebih giat. Aku merasa ia
dan aku terikat. Tapi faktanya dia lebih kuat, aku tak mungkin seseorang yang
penting baginya.
Tapi kenapa…
Ia selalu datang. Dengan
jubah hitam yang mengobarkan api pantang menyerah. Terus berusaha mencariku,
sampai ketemu. Aku tak mengerti perasaan ini tapi aku merasa nyaman bersamanya.
Dia mau menjemputku dalam keadaan begitu.
Tanpa rasa ragu ia mengangkat badanku, membawa ke tempatku yang sebenarnya
dimana aku bisa menghirup udara.
o0o
Desclaimer :
Cerita ini asli kepunyaan dari aftu, author dari aftu24.blogspot.com. Terinspirasi dari lagu Black Rock
Shooter.
Tittle :
Watashi?
Genere :
Friendship
Chapter : 1 dari …
o0o
AN : Ehem, akhir-akhir ini saya sering
banget nulis beginian. Cerita maksudnya. Eh tapi ada yang bilang ini prosa.
Saya jadi bingung ini termasuk prosa atau cerita.
Sumber
inspirasi saya berasal dari lagunya Hatsune Miku, vokalis dari Vocaloid.
Lagunya banyak yang mempunyai tempo cepet, nge-beat gitu. Saya kan suka yang
rimanya cepat, jadi kalo sobat punya saran lagu bisa hubungi saya. Terserah
lewat apa.
Saya
tambahkan lagi tentang cerita ini. Cerita yang saya buat ini saya gunakan
sebagai bahan mentah dari fanfiksi. Jadi mungkin sekitar beberapa hari atau
minggu kemudian pasti akan muncul fanfiksinya. Karena konsep cerita ini saya
gunakan untuk gambaran besar sebuah cerita.
Tapi
itu tidak menjamin loh ya, karena saya juga kadang disibukkan oleh duta
(DUnia nyaTA). Dan mood, lebih spesifiknya perasaan saya pada saat ngarang juga
sangat berperan dan mempengaruhi.
Jadi gak bisa dipaksain #belum_profesional
Udahlah
saya terlalu banyak omong, termia kasih sudah membaca

No comments:
Post a Comment
Saya harap anda menggunakan bahasa yang sopan dan tidak OoT. Terima kasih.