Malam gelap gulita. Terisi oleh
persona-persona yang kelam. Menggerogoti setiap jiwa yang rapuh. Sedikit demi
sedikit persona itu semakin banyak. Hingga memenuhi malam yang diterangi
pencahayaan temaram.
Terisak, sesak, meringis, tangis, terancam
malam yang kelam. Manusia mencoba lari dari persona. Tapi tak bisa, itu hanya
sia-sia, karena kelam masih mengikat, erat dan dirayapi sakit yang teramat.
Karena iru lahirlah satu persona. Rasa
pasrah terhadap derita, yang sebenarnya hanya semu semata. Terbentuk karena
semangat musnah dalam jiwa.
Tatapan manusia kosong. Mengindikasikan
telah lelah untuk meminta tolong. Karena harapan mereka telah diseret paksa dan
membuangnya ke dapalam jurang putus asa.
Tetapi, bagai mimpi buruk menjadi nyata.
Sesosok matahari bersinar terang dari
sudut bibir langit. Cahayanya mengisi manusia dengan jiwa.menarik kembali yang
sudah hiloang dan meletakkannya diantara rongga dada manusia. Itulah mimpi
buruk bagi para persona.
Jingganya yang hangat memberi semangat.
Menghapus rasa takut yang sudah teramat. Memunculkan kembali lengkungan senyum
bahagia di bibir manusia. Raut wajah yang nyaman untuk dipandang mata.
Persona hitam kelam terkikis dengan
sendirinya. Berteriak dan melolong sebelum habis binasa. Tak akan bisa kembali
meuncul untuk menemui manusia. Kecuali
ada pemantik yang ingin membakar dengan bersedia.
Kehidupan di dunia kembali normal. Tidak
ada tatapan kosong dan teriakan putus asa yang saling bersahutan. Karena semua
sudah tentram dan aman.
Setiap individu makhluk hidup mendapatkan
nafasnya kembali. Mengingat dulu mereka bersusah payah hanya untuk sekedar
berlari. Karena mereka dulu dikejar dan diteror, dan sekarang bisa melihat
kembali warna yang bermacam. Serta bisa kembali menikmati perbedaan yang
diciptakan oleh warna.
Aku tahu dia akan menyelamatkan mereka.
Membuat mereka kembali tertawa. Menghilangkan rasa sedih dan juga gelisah.
Kembali menuju dunia yang cerah pebuh warna.
Di selalu dibutuhkan. Dia selalu
diperhatikan. Dia selalu menciptakan.
Aku mulai menyadarinya ketika kehidupan
normal penuh warna ini dijalani lebih dari enam tahun. Ketika manusia juga
tersadar bahwa mereka juga membutuhkannya. Menganggapnya seperti nafas bagi
dada, meletakkannya dalam hati, dan selalu di ingat dalam ingatan.
Aku ingat saat manusia berwajah murung,
mata mereka tak menyipit, murung. Tak ada kekehan yang tercipta. Bahkan senyum
indah di bibir merah pun tak ada.
Pada saat itu matahari bersedih, sehingga
tercipat kawannnya bernama awan. Setiap isakan yang ia ciptakan. Halilintar
dengan cepat akan menyambar. Itu telah mewakilkan pertikaian dalam diri
matahari.
Halilintar itu membuat para menusia diam.
Tak ada yang bicara. Semuanya diam bagai kembali ke masa lalu yang kelam dan
sunyi. Mengingatkan mereka terhadapa peristiwa sekitar enam tahun silam.
Syukur karena matahari
dalam-keadaan-tidak-baik hanya sebentar. Karena jika tidak, manusia akan
menciptakan persona-persona lagi yang akan membuat hidup mereka menderita.
Hidup dalam ancaman dan kepasrahan.
Buntalan awan hitam telah tersingkirkan
dengan pelan. Mengembalikan cahaya berkilau yang sangat manusia rindukan.
Agar tidak membawa mereka kembali ke masa
yang tragis
Dimana mereka mencari kebahagian dengan
menangis
Setidaknya dengan adanya dia mereka tidak
akan menangis
Karena itu aku tak boleh egois…

No comments:
Post a Comment
Saya harap anda menggunakan bahasa yang sopan dan tidak OoT. Terima kasih.